Home Usaha Perikanan Harga Ikan Lele Berukuran Besar Justu Murah

Harga Ikan Lele Berukuran Besar Justu Murah

Harga Ikan Lele Berukuran Besar Justu Murah − Produksi ikan air tawar di Pringsewu meningkat setiap tahun. Bahkan, peningkatan tersebut melebihi target produksi. Seperti yang terjadi pada tahun 2012, produksi ikan air tawar mencapai 5.496,7 ton. Sementara target produksi hanya 5.177,22 ton.Produksi ini meningkat kembali sebanyak 256 ton pada tahun 2013, dengan total produksi saat itu 5.752,70 ton. Kendati begitu, peningkatan produksi ini justru berakibat pada menipisnya penghasilan. Apalagi, saat panen serentak di sejumlah wilayah produsen ikan air tawar.

Lele Ukuran Sedang Paling Ideal Dipanen

Lele Ukuran Sedang Paling Ideal Dipanen

Bambang Suhermanu, pembudidaya ikan air tawar di Patoman, Kecamatan Pagelaran, mengakui hal tersebut. Kondisi ini, menurut dia, menerpa pembudidaya khususnya ikan lele yang harganya anjlok hingga kisaran Rp 12 ribu per kilogram (kg). “Harga di tingkat petani (pembudidaya) turun antara Rp 2.000 sampai Rp 3.000 per kg,” katanya.

Bambang memaparkan, Pringsewu sempat memasok ikan lele konsumsi ke Metro hingga wilayah Palembang, Bengkulu, dan Jambi. Namun, karena wilayah sasaran distribusi ikan tersebut juga masuk masa panen, permintaan pun semakin berkurang.

Di sisi lain, Bambang mengungkapkan ikan lele hasil budi daya di Pringsewu juga harus panen. “Kondisi inilah yang menjadi salah satu faktor harga lele turun ketimbang ikan emas yang harganya Rp 21 ribu per kg dan ikan gurame yang paling rendah Rp 20 ribu per kg,” jelasnya.

Kepala Bidang Bina Usaha Perikanan Dinas Peternakan dan Perikanan Pringsewu Hairul Fallah menuturkan ikan lele merupakan ikan air tawar paling favorit bagi warga setempat untuk dibudidayakan.Pada tahun 2012, Hairul memaparkan produksi ikan lele tercatat mencapai 52,66 persen. “Baru menyusul ikan emas 31,05 persen, patin 4,16 persen, dan gurame 8,57 persen,” ujarnya.

Faktor pendorong ikan lele menjadi favorit warga Pringsewu, menurut Hairul, karena ikan lele lebih mudah dibudidayakan. Di antaranya, tidak memerlukan lahan yang luas dan jangka waktu budi daya hanya berkisar 60-70 hari.Selain itu, sambung Hairul, permintaan konsumsi ikan lele tinggi karena durinya sedikit dan lebih banyak dagingnya. “Apalagi sekarang sudah ada agen pakan ikan yang bersedia bekerja sama. Petani tinggal bilang ke agen mengenai kebutuhan pakan dan bisa membayarnya saat sudah panen,” katanya.

Satu persoalan lainnya adalah biaya pakan yang membengkak serta fisik ikan lele yang akhirnya membesar. Itu lantaran ikan lele tidak segera dipanen ketika tiba waktunya panen dengan alasan harga masih murah.

Manager Marketing Central Proteinaprima Ahmad Burman menjelaskan pembesaran fisik ikan lele justru akan mengakibatkan nilai jual lebih rendah dari ukuran ikan lele konsumsi biasanya.

Ia mencontohkan dua ekor ikan lele dengan berat total dua kg. Menurutnya, ikan lele ukuran seperti itu sudah terlalu besar untuk konsumsi. “Sementara untuk digunakan sebagai indukan, juga belum siap. Kalaupun ikan lele satu darah itu dikawinkan, malah akan menghasilkan peranakan yang kurang baik untuk budi daya,” tandasnya.

Kabar terbaru yang kami dapatkan Kini Telah dikembangkan Jenis Lele Sangkuriang di Kabupaten Sleman.Berkat lele sangkuriang, peternak ikan di Kalasan, Sleman meraup sukses. Adapun usaha peternak lele sebelumnya sempat tidak berkembang.

“Lima tahun yang lalu, kalau kita mengelola ikan lele itu selalu tekor,” ujar sambil menghela napas ketika Harianjogja.com menanyakan bagaimana kisah awal budidaya lele.Akibatnya kolam-kolam ikan yang ada di daerahnya menjadi telantar. Namun, Suparno tidak putus asa dan berusaha mencari jalan keluar. Pasalnya, kolam ikan merupakan mata pencaharian warga di dusun tersebut. Singkat cerita kelompok peternak lele mendatangkan narasumber ahli perikanan orang Indonesia tapi pernah belajar di Jepang,” ucap Suparno.

Dari situlah awal titik terangnya. Kelompok Mina Wahyu Sejati dikenalkan dengan metode pembudidayaan ikan lele yang berbeda. Metodenya bernama bio enzim. Pakannya dicampur dengan berberapa jenis vitamin. Tak hanya itu, kelompok tani kemudian memilih bibit lele Sangkuriang 2 untuk dibudidayakan. Pemilihan bibit itu bukannya tanpa alasan. Lele sangkuriang 2 bisa tumbuh 10% lebih cepat dari generasi sebelumnya. Ukuran tubuhnya pun lebih bongsor dan yang terpenting lebih tahan terhadap penyakit.

Lele yang namanya diambil dari cerita rakyat Sunda tersebut pertama kali diperkenalkan oleh Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi pada tahun 2004. Lele Sangkuriang merupakan versi perbaikan dari lele dumbo yang mengalami penurunan kualitas. Pada 2010, BBPBAT kembali melakukan pengembangan terhadap ikan lele sangkuriang. Kali ini lele sangkuriang dikawinkan dengan lele dari sungai Nil, Afrika dengan hasil sangkuriang 2.

Dengan metode baru dan bibit unggul memberikan hasil yang lebih baik. Tingkat kematian bibitnya jadi lebih rendah. Dari 14.000 bibit ekor yang ditebar, jumlah lele yang mati hanya 217 ekor. Pakannya pun lebih irit. Selain itu, juga digunakan sistem penyaringan atau filter air. Dari segi waktu, masa panennya lebih cepat dari ikan lele biasa yang butuh tiga bulan. Menurut pengakuan beberapa anggota kelompok, daging ikan lele sangkuriang 2 juga lebih padat dan rasanya pun lebih gurih