Fillet Ikan Patin Hasil Perikanan Komoditas Ekspor

0
57

Fillet Ikan Patin Hasil Perikanan Komoditas Ekspor − Industri pengolahan filet ikan patin tumbuh gurih. Lihat saja, tahun 2014 ini, pabrik ikan patin rencananya akan bertambah dua.Saut P. Hutagalung, Direktur Jenderal Pemasaran dan Pengolahan Hasil Perikanan (PPH) KementerianKelautan dan Perikanan (KKP) mengatakan, adanya tambahan dua pabrik baru makatotal kapasitas filet ikan patin menjadi 600 ton.Sayang, Saut masih enggan menyebutkan nama perusahaan produsen filet ikan patin tersebut.

Fillet Ikan Patin Siap Jual
Fillet Ikan Patin Siap Jual

 

Ia menjelaskan, sampai Juni 2013, jumlah pengolahan ikan ada tujuh unit. Kemudian di akhir tahun 2013, ada tambahan lima unit pabrik. Dengan demikian, sampai Desember 2013, jumlah pengolahan filet ikan patin mencapai 12 unit dengan total kapasitas produksi mencapai 300 ton per bulan.

Adapun untuk membuat satu unit industri pengolahan filet ikan patin dibutuhkan biaya investasi sebesar Rp 7 miliar hingga Rp 10 miliar.Meski kapasitas produksi filet ikan patin bertambah, jumlah tersebut masih belum bisa memenuhi kebutuhan. Diperkirakan, pada tahun 2014, kebutuhan filet ikan patin mencapai 700 ton per bulan. “Fokus pemasaran filet ikan patin masih di dalam negeri,” kata Saut.

Jika kebutuhan di dalam negeri sudah terpenuhi, Saut bilang, filet ikan patin bisa diekspor. Tetapi, rencana ekspor filet ikan patin ini masih belum bisa dilakukan dalam waktu dekat. Rencananya, ekspor filet ikan patin baru bisa dilakukan pada tahun 2015 mendatang.Supaya berdaya saing di pasar ekspor, Saut bilang biaya produksi pengolahan harus ditekan. “Terutama biaya pakan,” kata Saut. Selain itu juga, limbah ikan patin seperti tulang dan kulit harus dapat dimanfaatkan sehingga memiliki nilai tambah.

Saat ini, harga ikan patin hidup berada di kisaran Rp 12.000 – Rp 14.000 per kg. Daerah-daerah yang menjadi andalan produksi ikan patin adalah di Kalimantan Selatan yaitu di Banjar, kemudian Kampar di Jambi,Sumatera Selatan,dan Jawa.Empat perusahaan pengolahan fillet ikan patin nasional berkomitmen memasok 200 ton setiap bulannya untuk kebutuhan hotel, restoran dan katering (horeka).Komitmen itu akan menggantikan peran fillet ikan patin asal Vietnam.

Saut mengatakan, pihaknya berupaya memfasilitasi pengembangan jaringan hasil produk perikanan Unit Pengolahan Ikan (UPI) dengan pengguna Horeka serta pasar ritel modern. Menurutnya, empat UPI fillet ikan patin secara bertahap akan memasok sebesar 200 ton.Keempat UPI fillet ikan patin itu adalah ‎ PT Dua Putra,CV Mitra Mina Makmur dan Surya Kencana Mina dan PT Indomaguro Tunas Unggul. Diakui, untuk kebutuhan pasar horeka di Jabodetabek ditaksir mencapai 700 ton.

“Selama ini, kebutuhan pasar horeka itu justru diisi ikan fillet patin asal Vietnam,” ujar Saut dengan nada sesal.Saut tidak menampik, pasar menyukai fillet patin Vietnam karena harganya lebih murah,kualitas yang lebih bagus dan kepastian pasokan.Mengenari harga, hal itu diamini Mangesti Waluyo Djati, Dirut PT Samudera Kencana Mina-UPI fillet patin.Untuk harga impor, berkisar US$ 2 dolar, sementara fillet patin lokal Rp 45.000 per kilogram (kg).”Hitungannya,1 kg fillet ikan patin membutuhkan 3 ekor fillet ikan patin. Industri hanya memakai 30 % saja, kepala,ekor dan kulit masih dibuang,” terangya.

Saut kembali menjelaskan,KKP berkepentingan untuk menjaga pasar domestik sekaligus meningkatkan produksi melalui sinergitas hulu-hilir perikanan.Atas hal itu,melalui Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 15 Tahun 2011, telah melakukan pengendalian terhadap impor produk fillet patin.Karena itu, untuk memastikan konsimen pihaknya melakukan nota kesepahamaan antara empat UPI dengan konsumen.

Dengan begitu,sambung Saut,pasar memperoleh kejelasan pasokan konsumen mendapatkan fillet ikan patin.Saut optimis, tahun depan, penetrasi pasar domestik menjadi 600 ton. ” Restoran Solaria dan jaringan membutuhkan 150 ton per bulan. Belum juga katering Garuda sebesar 30 ton,”kata Saut.