Kerajinan Akar Jati Bojonegoro Tembus Luar Negeri

0
29

Kerajinan Akar Jati Bojonegoro Tembus Luar NegeriHasil kerajinan akar jati di Desa Geneng, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, mampu menembus pasar berbagai negara, namun masih melalui pedagang lokal yang melakukan pembelian kerajinan di perajin.

Kerajinan Akar Jati Bojonegoro Tembus Luar Negeri

Ketua Paguyuban Perajin Limbah Akar “Jati Aji” Desa Geneng, Kecamatan Margomulyo, Bojonegoro, Jawa Timur, Yuli Winarno (40) di Bojonegoro, Jumat mengatakan produksi para perajin di desamya yang berjumlah 65 orang sudah lama mampu memenuhi pasar luar negeri.

Ia memperkirakan produk perajin, antara lain, berupa kursi bar, meja, juga berbagai suvenir yang dikirim ke berbagai negara, antara lain, Amerika Serikat, Australia, Korea Selatan, Taiwan, Malaysia, India, juga negara lainnya, sekitar 100 truk/bulan, senilai sekitar Rp3 miliar.

“Pengiriman produk akar jati ke luar negeri itu yang dikoordinasikan dengan paguyuban. Padahal, ada perajin yang tidak melapor ke paguyuban telah mengirimkan produknya ke luar negeri,” paparnya.

Hanya saja, menurut dia, pengiriman produk akar jati ke berbagai negara di luar negeri, dilakukan para pedagang dari luar daerah, antara lain, dari Jepara, Yogyakarta dan Bali, yang melakukan pembelian produk akar jati perajin di desa setempat atas pesanan konsumen.

“Pembelinya dari luar negeri juga sering datang ke lokasi desa ini, tetapi penanganan pengiriman barang melalui pelabuhan di Surabaya dilakukan pedagang lokal,” jelasnya.

Mengenai harga produk kerajinan di desa setempat, ia menyebutkan berbagai kursi bar, meja bar, sofa, berkisar Rp150.000 sampai sampai Rp500 ribu, dan hanya kerajinan tertentu yang khusus seperti sofa besar harganya bisa mencapai Rp5 juta/sofa.

Ditanya stok bahan akar jati, ia menjelaskan para perajin tidak hanya mencari akar jati di lokal Bojonegoro, tetapi juga ke Nganjuk, Madiun, Tuban, juga Blora Jawa Tengah.

Pencarian bahan, katanya, dilakukan ke luar daerah karena stok bahan akar jati lokal, sudah mulai menipis. Selain itu, perajin juga menyiasati kerajinan akar jati tidak secara alamiah, tetapi dengan cara menempelkan untuk menghemat stok.

“Kerajinan akar jati di sini melibatkan sekitar 2.000 tenaga kerja yang bertugas mencari akar jati di hutan,” katanya, menegaskan.

Menjawab pertanyaan, Juli, juga perajin lainnya Yani, optimistis para perajin akar jati di desa setempat masih akan mampu bertahan cukup lama, meskipun stok akar jati mulai berkurang.

“Ketika saya mengawali bekerja sebagai perajin tujuh tahun lalu juga memperoleh kabar stok akar jati sudah hampir habis. Kenyataannya sampai hari ini tetap masih ada,” jelas Yani, menegaskan.