Bisnis Kerajinan Bambu Mulai Kecil Kecilan Untung Gede-Gedean

0
37

Bisnis Kerajinan Bambu Mulai Kecil Kecilan Untung Gede-Gedean — Indonesia memang terkenal dengan berbagai macam kekayaan alamnya. Dan jika dikembangkan secara serius minimal dalam skala usaha kecil kecilan, bisa memberikan kepada Anda keuntungan yang cukup maksimal.

Bisnis Kerajinan Bambu Mulai Kecil Kecilan Untung Gede-Gedean

Contoh kekayaan alam Indonesia yang paling sering kita jumpai adalah bambu. Meskipun pada daerah-daerah tertentu bambu sulit didapatkan, tapi pada umumnya, hampir semua daerah terdapat banyak pohon bambu.

Nah, bambu ini adalah salah satu tumbuhan yang paling sering dimanfaatkan oleh masyarakat, baik secara tradisional maupun modern. Salah satunya adalah dimanfaatkan sebagai bahan baku furnitur.

Dan luar biasanya, dari jaman dulu hingga sekarang, furnitur dari bambu ini masih diterima dengan baik oleh masyarakat. Bahkan di mata masyarakat internasional, furnitur dari kayu bambu diterima dengan baik.

Well, kali ini saya akan berikan kepada Anda contoh usaha kecil kecilan berbahan baku kayu bambu yang sudah lama digeluti oleh mas Subiantoro.

Pada tahun 1997, pemuda yang terlahir di daerah sentra industri bambu ini memutuskan untuk meneruskan usaha kerajinan bambu yang telah lama dirintis oleh pamannya. Karena terlahir di daerah sentra kerajinan, mas Subiantoro tidak terlalu kesulitan untuk menekuni usaha kecil kecilan yang satu ini.

Apa nama usaha kecil kecilan milik mas Subiantoro? Tekun Jaya Muda, itulah nama usaha industri mebel bambu yang diusungnya saat ini. Produk yang dihasilkan sangat beragam. Ada mebel bambu, dipan dari bambu, gazebo bambu, rumah dari bambu dan aneka macam kerajinan bambu lainnya.

Khusus untuk produk kerajinan selain mebel, dipan, gazebo dan rumah bambu, mas Subiantoro mengambil dari pengrajin yang lain untuk ia bantu pasarkan. Rata-rata kapasitas produksinya dalam 1 bulan mencapai 25 set mebel dimana 1 set mebel terdiri dari 1 meja dan 2 kursi.

Dalam sebulan, ia bisa menghabiskan bahan baku berupa bambu, rotan dan plitur/vernis dalam jumlah yang cukup banyak. Anda bisa lihat detail jumlah dan harga bahan baku usaha kecil kecilan beliau seperti di bawah ini :

Bambu 3 truk (600 batang)/ bulan : Rp. 2.000.000,-/truk
Rotan 50 kg/bulan : Rp. 20.000,-/kg
Plitur/vernis 10 kg/bulan : Rp. 30.000,-/kg

Darimana ia bisa memperoleh bahan baku untuk usaha kecil kecilannya tersebut? Untuk bahan baku bambu, ia mendatangkan hanya kota dari Jogja dan kota-kota sekitarnya. Sedangkan untuk rotan dan plitur (asal damar), ia biasa memperoleh bahan baku terebut dari pedagang yang mendatangkannya dari Kalimantan.

Sebagai gambaran saja, saat memulai usaha kecil kecilan hingga sekarang, Subiantoro dibantu oleh 12 orang tenaga kerja dimana masing-masing tenaga kerja tersebut mempunyai tugas dengan bayaran tertentu. Jumlahnya bertahap, sesuai dengan perkembangan usaha beliau. Eniwei, bagaimana proses pembuatan mebel dari kayu bambu tersebut?

Pertama kali, mas Subiantoro menentukan model dan ukurannya. Setelah itu, bahan baku bambu dicuci hingga bersih kemudian dikeringkan. Bila kondisi cuaca panas, ia hanya membutuhkan waktu 1 minggu untuk mengeringkan bambu-bambu tersebut.

Setelah kering, bambu dipotong sesuai dengan ukuran dan model yang telah ditentukan. Potongan-potongan bambu tersebut dirakit sebagai kerangka mebel dengan cara dipaku atau diikat. Supaya indah, bagian sambungan tersebut dibalut dengan rotan sehingga nampak cantik jika dipandang orang.

Setelah kerangka terbentuk, dibuat sandaran dan dudukan pada masing-masing kerangka yang sudah terbentuk. Apabila model dudukan dan sandaran mempunyai motif, maka dilakukan pengukiran pada dudukan dan sandaran tersebut. Setelah semuanya selesai, hal terakhir yang dilakukan adalah finishing, dimana mebel tersebut diamplas kemudian divernis.Kelebihan usaha kecil kecilan mas Subiantoro jika dibandingkan dengan teman-teman sejawatnya adalah pengalamannya. Dari sekian banyak pengrajin yang ada di daerah tersebut, Tekun Jaya Muda termasuk pengrajin yang cukup lama usianya. Hasil produksinya lebih halus, lebih rapi dan lebih kokoh.

Untuk masalah pemasaran, usaha kecil kecilan milik mas Subiantor sudah luas. Jaringan bisnis miliknya tidak hanya di dalam negeri saja. Ia sudah bisa memsarkan hingga ke luar negri.

Untuk pasar dalam negri, penjualan per bulan mencapai lebih dari 60 set yang terdiri dari 15 set untuk penjualan lokal Jogja dan sisanya luar Jogja seperti Magelang, Karawang dan Kalimantan. Harga jual antara Rp. 300.000,- hingga Rp. 700.000,- /set.

Untuk pasar luar negri, sebagian besar pembelinya adalah dari Belanda dengan senilai 10 juta rupiah per set. Saat ini mas Subintoro memiliki cabang di Magelang dan Karawang. Keduanya merupakan kerjasama usaha dengan pihak lain yang bersedia untuk memasarkan produknya. Sedangkan untuk cabang yang berada di Kalimantan dikelola sendiri oleh adiknya.

Rencana ke depannya, mas Subiantoro akan mencoba membuka cabang pemasaran baru di wilayah-wilayah yang belum terdapat kerajinan mebel bambu untuk memperluas pasar baru.