Advertising Petakumpet dari komunitas menjadi biro iklan

By on December 14, 2014
Advertising Petakumpet dari komunitas menjadi biro iklan Reviewed by Peluang Bisnis on . This Is Article About Advertising Petakumpet dari komunitas menjadi biro iklan

Advertising Petakumpet dari komunitas menjadi biro iklan − Bagus saja tidak cukup! Begitulah slogan yang dikibarkan Petakumpet. Sebuah perusahaan yang sangat percaya bahwa berjualan ide adalah bisnis sangat mahal meski hanya bermodal nol besar. karya Petakumpet yang banyak terpampang di berbagai sudut Jogjakarta, media, maupun di tempat-tempat strategis sebenarnya sudah menggambarkan sebesar apa perusahaan itu. Belum […]

Rating: 4

Advertising Petakumpet dari komunitas menjadi biro iklan − Bagus saja tidak cukup! Begitulah slogan yang dikibarkan Petakumpet. Sebuah perusahaan yang sangat percaya bahwa berjualan ide adalah bisnis sangat mahal meski hanya bermodal nol besar.

Sekertariat Petakumpet Jogja

Sekertariat Petakumpet Jogja

karya Petakumpet yang banyak terpampang di berbagai sudut Jogjakarta, media, maupun di tempat-tempat strategis sebenarnya sudah menggambarkan sebesar apa perusahaan itu. Belum lagi, sederet penghargaan yang berhasil disabet dalam berbagai kompetisi di dunia periklanan. Tapi, siapa yang menyangka kelahiran PT Petakumpet berawal dari sebuah komunitas.
Petakumpet berangkat dari sebuah komunitas mahasiswa Desain Komunikasi Visual FSR ISI Jogja angkatan 1994. Terbentuk kali pertama sebagai sebuah komunitas pada 1 Mei 1995. Komunitas itu hanya bermarkas di studio kecil di Pakuncen, Jogja. Anggotanya kurang lebih 25 orang. Kala itu, order kecil-kecilan mulai didapat dengan promosi dari mulut ke mulut.
Waktu itu banyak anggota masih aktif sebagai mahasiswa ISI Jogja. Sejak membentuk studio kecil tersebut, anggotanya kuliah sambil bisnis kecil-kecilan. Antara lain, memproduksi stiker, sablon, poster, spanduk, dan komik. Mereka bermimpi di kemudian hari menjadikan Petakumpet sebagai tambang uang.

Demi mengejar mimpi, seluruh order dan usaha pengembangan bisnis dilakoni. Akibatnya, banyak ”penghuni” Petakumpet yang memutuskan cuti kuliah tanpa batas waktu yang jelas. Mereka kompak mengejar mimpi-mimpi itu. ”Hanya bermodal keberanian dan semangat, dipadukan dengan kerasnya dengkul,” ujar Executive Creative Director PT Petakumpet Creative Network, M. Arief Budiman.

Namun, siapa sangka, itu merupakan awal berdirinya Petakumpet yang mulai dikenal di kalangan periklanan. Sejat saat itu, Petakumpet mulai aktif mengadakan atau mengikuti pameran sebagai wujud komunikasi dan interaksi melalui media desain grafis dan ilustrasi. Aktivitas tersebut mampu mewarnai setiap individu di dalamnya. Mereka menjadi memiliki keterikatan secara moral dan etika untuk menjaga nama baik komunitasnya.

Konsep studio juga memberikan banyak kemudahan dan kebebasan. Namun, ikatan yang longgar bagi anggota justru menyebabkan kelambanan bergerak, kesulitan pengelolaan, dan mengganjal pertumbuhan komunitas menjadi besar. Akhirnya, malah banyak anggota yang mengalami keputusasaan sehingga tak sedikit yang sibuk dengan usaha sendiri-sendiri di luar.

Dari gejala-gejala itulah, muncul pemikiran bagaimana agar energi kreatif yang dimiliki anggota lebih efektif. Dari situ mulai berpikir membuat nama Petakumpet dikenal lebih luas, serta memperbaiki manajemen. Tak bisa hanya mengandalkan bentuk komunitas yang kalau pekerjaannya selesai, untungnya langsung dibagi-bagi. ”Kalau koordinatornya adil, kemungkinan tak menjadi masalah. Kalau tidak, bisa bertengkar hebat antar teman,” imbuh Arief.

Dari komunitas menjadi biro iklan papan atas

Dari komunitas menjadi biro iklan papan atas

Lalu, pada September 1999, lima orang di dalamnya, Arief, Itok, Eri, Yudi, dan Bagoes, sepakat mereinkarnasi komunitasnya menjadi perusahaan bernama Petakumpet AIM (advertising, illustration, multimedia). Dengan berubah menjadi perusahaan, mulai ada aturan main, prosedur kerja, job description, sekaligus upah yang jelas. Dengan hanya bermodal dua komputer 386 DX, satu scanner, satu printer, dan sebuah kompresor, markas dipindah dari daerah Pakuncen ke rumah yang harus ditempuh melewati gang sempit di daerah Sorowajan.

Dalam perkembangannya, kata Arief, perusahaan itu melewati berbagai rintangan yang tak bisa dihindari. Di antaranya, ketiadaan modal yang cukup serta SDM dan link bisnis yang terbatas. Berkat semangat untuk maju, berbagai tantangan berhasil dilalui. Singkat cerita, dengan semangat itulah, pada 7 Maret 2003, perusahaan kecil tersebut resmi menjadi badan usaha berbentuk perseroan terbatas dengan nama PT Petakumpet. Dengan staf yang sudah mencapai 45 orang, perusahaan itu memiliki armada yang lengkap untuk memberikan servis kreatif di bidang AIM.

Komutas Kreatif Petakumpet

Komutas Kreatif Petakumpet

Arief dan kru Petakumpet yang lain sepakat menganggap bisnis ide adalah bisnis yang paling murah karena tak harus mengeluarkan modal rupiah. Tak disangka, pertumbuhan Petakumpet begitu cepat. Jumlah kliennya terus bertambah. Dari awalnya 12 institusi dan personal, kini lebih dari 350 klien. Petakumpet juga sudah memiliki dua kantor besar di Sleman, Jogja, dan di Bellagio Boutique Mall, Mega Kuningan, Jakarta.

Pendiam tapi Punya Ide Ribuan

JIKA disebut sebagai key person Petakumpet, Arief Budiman pasti mengelak. Sebab, bagi laki-laki jebolan ISI Jogja itu, kesuksesan yang diraih Petakumpet adalah hasil kerja keras orang-orang yang memiliki visi sama dalam membangun biro iklan tersebut. Sekilas, executive creative director PT Petakumpet Creative Network itu tampak seperti pendiam. Tapi, siapa sangka ribuan ide sudah berhasil dia telurkan.


Arief yang lahir di Rembang, 21 maret 1975 tersebut berangkat dari keluarga sederhana. Pendidikan formal mulai TK hingga SMA dia tamatkan di kota kecil di pesisir utara Jawa tersebut. Dia menyatakan tumbuh sebagai anak yang biasa-biasa saja meski sejak SD selalu menduduki peringkat tiga besar. Arief mengaku introvert serta tumbuh sebagai pribadi yang bandel, tak rajin, dan gagap.


“Saya gagap sampai kelas 3 SMP. Itu siksaan buruk dalam hidup saya. Setiap kali guru menyuruh saya maju ke depan kelas untuk membaca, menyanyi, atau tampil, pasti saya langsung pucat,” ucapnya. Meski demikian, kegagapan tersebut mulai sirna saat dia masuk kuliah. Bermodal feeling, pada 1993 dia hijrah ke Jogja untuk melanjutkan studi. Dia mengambil program studi desain komunikasi visual (diskomvis) FSR ISI Jogja setelah kuliah satu tahun di Fakultas Pertanian UGM.

Di ISI, dia merasa bisa belajar lebih banyak keterampilan yang disebut craftsmanship. Yakni, bagaimana mendesain yang benar, mengombinasikan warna dalam sebuah desain, serta memindahkan benda hidup ke dalam ilustrasi gambar tangan dan hal-hal yang berhubungan dengan itu. Jiwa seni yang dimiliki tak lepas dari hobinya sejak kecil, yakni suka menggambar, menulis, dan membaca buku.

Semasa kuliah, dia tidak tergolong mahasiswa rajin. Dari mata kuliah tiap semester, dia rata-rata hanya mengikuti 75% kehadiran. Sisanya digunakan untuk membolos. Tapi, membolosnya bukan sekadar bermalas-malasan. Hari-hari membolos dia isi dengan bekerja sampingan. Yakni, membuat desain grafis di kos dan mencetaknya di percetakan. Meski demikian, dia berhasil lulus sebagai wisudawan terbaik dan menjadi mahasiswa teladan.

Berimajinasi Lambungkan Impian
APA yang dijual Petakumpet sama halnya dengan apa yang dijual seniman-seniman besar. Mereka bisa menghasilkan sesuatu yang mahal seharga miliaran rupiah dengan ide yang dibeli senilai nol rupiah. Ya, sebuah ide adalah kunci keberhasilan mereka. Lantas, bagaimana para awak Petakumpet merumuskan ide-ide kreatifnya?
Menurut Arief Budiman, ide bisa digali di mana saja, kapan saja, dengan media apa saja. Begitu juga, apa yang dilakukan kru kreatif Petakumpet untuk mendapatkan ide yang bisa memuaskan kliennya, serta dapat dinikmati publik. Tak dimungkiri, tak semua orang memiliki tingkat kreativitas yang sama. Sebab, ide tak hanya dilihat sebagai satu wujud realita yang tampak oleh indra penglihatan.

Menjelaskan hal itu, Arief mengambil contoh sebuah lahan kosong satu hektare yang ada di hadapan mata. Secara realita, jika lahan tersebut berada di depan mata kepala yang melihatnya, wujudnya pun akan sama. Yakni, lahan kosong seluas satu hektare. Namun, lain halnya jika seseorang melihat lahan tersebut dengan mata pikiran. Lahan itu bisa menjadi bermacam-macam bentuk dalam pikiran masing-masing yang melihatnya.
Entah di sana terhampar sawah hijau nan sejuk, ataukah justru sebuah kawasan realestat yang bernilai triliunan rupiah. ”Karunia Tuhan yang luar biasa bernama otak itulah yang menjadi modal dasar kesuksesan kita. Kemampuan tak terhingga untuk berimajinasi dan melambungkan impian luar biasa atas masa depan kita,” ungkap Arief.

Biasanya, lanjut dia, klien akan memberikan brief mengenai iklan yang akan dibuat. Lantas, Petakumpet berusaha menampung dan menangkap secara detail pemikiran-pemikiran dan keinginan si klien. Tim kreatif pun bergerak. Dengan imajinasi yang seolah sudah terasah di otak mereka, hal-hal yang tak tampak di dunia nyata bermunculan.
Tak hanya itu,

Petakumpet pun tak jarang melakukan riset dan survei ke berbagai tempat, sesuai produk iklan yang akan digarap. Misalnya, untuk membuat iklan yang berbau sosial, tim Petakumpet melakukan survei di pasar-pasar tradisional. Mereka lalu mengamati apa saja yang tampak di sana dan menjadi perhatian tersendiri jika diangkat dalam produk iklan yang akan mereka kerjakan.

Begitu juga produk-produk yang lain, mereka melakukan survei dan riset sesuai materiSalah satu karya fenomenal yang bisa disaksikan di layar kaca adalah iklan Gudang Garam Merah versi Kemerdekaan 17 Agustus. Selain berasal dari klien raksasa sekelas PT Gudang Garam Tbk, iklan itu diproduseri Pacquita Widjaja. Konsepnya membuat trenyuh, yakni bercerita tentang seorang anak SD yang memiliki keinginan kuat menghargai kemerdekaan dengan mengikuti upacara bendera.

Di tengah perjalanannya menuju sekolah, banyak rintangan yang harus dihadapi. Salah satu di antaranya, dilema hati bahwa di tengah perjalanan dia melihat seorang ibu yang membawa banyak barang tertimpa kecelakaan. Antara mengikuti upacara dan menolong ibu itu, akhirnya dia memutuskan menolong terlebih dahulu. Alhasil, dia terlambat mengikuti upacara. Namun, di luar gerbang sekolah dia masih memiliki kesempatan melakukan penghormatan kepada bendera bangsanya.