Home Kisah Sukses Rahasia Usaha Sukses Kaca Gravir

Rahasia Usaha Sukses Kaca Gravir

Rahasia Usaha Sukses Kaca Gravir − Gagal mendapatkan pekerjaan, tapi malah menjadi pengusaha sukses bidang seni kaca gravir. Itulah jalan hidup yang ditempuh Doni Alferi.

PADA 1998, Doni mampu menyelesaikan studinya di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi dan Perbankan Padang. Sebagaiman kebanyakan sarjana yang baru lulus, Doni pun berupaya menjadi pekerjaan. Puluhan surat lamaran dia sebar ke sejumlah perusahaan baik nasional maupun lokal dengan harapan ada salah satu yang menerimanya.

Doni sangat berharap mendapatkan pekerjaan secepatnya selepasnya menyelesaikan kuliah. Dia merasa harus membalas budi kepada orang tua yang telah membiayainya. Apalagi, Doni termasuk sosok yang tak suka lama-lama menganggur.

Enam bulan pertama belum mendapat panggilan, Doni merasa masih tenang. Memasuki bulan kedelapan belum juga mendapat pekerjaan yang sesuai, hati pria kelahiran 1973 tersebut mulai gelisah. ”Tapi saya masih nyantai saat itu,” kenangnya.

Setelah setahun lewat belum juga mendapat kerja, kegelisahan hatinya mulai bertambah. Menyandang status sarjana yang masih menganggur begitu membebaninya. Rasa frustrasi pun mulai menghinggapi. ”Teman-teman saya seangkatan banyak yang sudah mendapat pekerjaan, tapi saya kok belum,” ujarnya.

Tak mau hanya sekadar berpangku tangan menanti belas kasih pihak lain, Doni pun memasang target pribadi. Kalau hingga tahun 2000 belum mendapat pekerjaan, dia akan memilih menjadi wiraswasta saja, meski saat memutuskan pilihan tersebut dia belum tahu bidang usaha yang bakal digelutinya.

Entah karena garis nasib menuntunnya memang mesti menjadi pengusaha, hingga tahun 2000 pekerjaan pun belum didapat. Janji pada diri sendiri yang pernah diucapkannya pun harus ditepati. ”Karena saya sudah membulatkan tekad tahun 2000 sebagai tahun perubahan nasib, begitu saya belum mendapatkan pekerjaan juga di tahun tersebut, saya benar-benar memutuskan menjadi wiraswasta,” terangnya.

Maka, dimulailah sebuah perjalanan anak muda Padang yang gagal mendapat kerja untuk kemudian menjadi seorang wiraswasta. Pada tahun 2000 Doni lalu mengontrak sebuah bangunan di Jalan Hamka, Padang. Bermodal tekad dan keyakinan dia pun mulai mewujudkan cita-citanya.

Di tempat itulah ia kemudian mendapat ide untuk membuka usaha kaca gravir. Pertimbangannya, di Padang, belum ada orang yang menggarap kaca hias berharga mahal ini. Setelah membaca ihwal bisnis ini dari sejumlah literatur,  Doni pun  berangkat ke Jakarta untuk magang di sebuah pabrik kaca gravir.

Magang di Jakarta menjadi salah satu proses awal yang mesti ditempuh Doni. Menurutnya, menaklukkan Jakarta merupakan salah satu jalan mengasah mental selain lebih mendalami seluk beluk bisnis gravir, mengingat seni kerajinan kaca gravir di ibu kota memang telah berkembang pesat.

Selama ini di Jakarta, Doni ikut bekerja pada salah satu pengusaha kaca gravir yang kebetulan dikenalnya. Selama menimba ilmu di Jakarta, Doni mengaku tak memikirkan apakah dia dibayar atau tidak. Terpenting kata Doni, dia mendapat pengalaman, mulai dari pengadaan bahan baku, proses produksi hingga pemasaran.

Merasa bekal uang didapatnya sudah cukup, dia pun kembali ke Padang dan memberanikan diri membuka Kinabalu Glass. Kinabalu Glass adalah perwujudan cita-cita Doni memiliki usaha di bidang kaca gravir.

Saat-saat awal memulai usaha, Doni mengaku semuanya masih serba terbatas. Modal terbatas, pengalaman belum seberapa, termasuk alat produksi yang dipakai pun masih sederhana. Memotong kaca dan menyemprot cat masih dilakukan secara manual. Sementara pasokan bahan baku  utama berupa kaca patri diperolehnya dari seorang pedagang di Jakarta. “Kalau bahan lainnya, seperti kaca limbah, stainless steel, dan timah bisa diperoleh di Padang,”katanya.

Karena usahanya tergolong masih baru di Padang, Kinabalu Glass pun belum begitu dikenal. Untuk mendapatkan konsumen, Doni turun gunung mencari sekaligus menyakinkan. Pesanan pun belum banyak yang datang. Doni mengatakan, di saat itu, dia benar-benar mendapat ujian berat. ”Kontrakan tetap harus dibayar, sementara pesanan belum banyak. Hanya tekad dan semangat yang membuat saya terus bertahan,” ungkapnya.

Namun seiring dengan waktu, usahanya mulai dikenal luas oleh masyarakat Padang. Melalui penetrasi pasar dan display barang yang senantiasa dia pajang di ruko yang dikontraknya, Kinabalu Glass mendapat respon positif dari masyarakat Padang.

Permintaan pasar pun mulai banyak. Seiring dagangannya yang mulai laris omset Kinabalu pun merangkak naik. Per bulannya tak kurang Rp100 juta mampu dihasilkan Kinabalu Glass.

Umumnya permintaan pasar datang dari dari perhotelan dan perumahan. Tidak hanya dari wilayah Padang pesanan juga datang dari kota-kota lain di Sumatera Barat, Jambi, Pekanbaru, dan Bengkulu.

Dari sebuah tekad dan keyakinan, usaha Doni kini berkembang pesat. Doni kini memiliki sebuah bengkel dan dua ruang pamer. Dengan mempekerjakan 16 karyawan, rata-rata produksi Kinabalu setiap bulannya mencapai 20 meter persegi. Sebagai produk kreatif yang digarap oleh sebuah usaha kecil, angka produksi ini sudah tergolong lumayan besar.

Demi memuaskan para konsumennya, Doni selalu membuat disain anyar sesuai dengan pesanan pembeli. Produknya pun tidak hanya terbatas pada kaca jendela dan pintu, tapi juga kaca untuk perabot rumah tangga lainnya, seperti meja dan lampu hias.

Karena disain produknya dibuat sesuai pesanan, maka harga jual yang dipasang pun  bervariatif, antara Rp 1,5 juta hingga Rp 6,5 juta per meter persegi. “Tergantung pada tingkat kerumitannya,”kata Doni.

Dari harga yang dipasang untuk setiap meter kaca produksinya, Doni mengaku bisa memetik keuntungan sebesar 25% – 40%. Maka, wajar jika dalam enam tahun pertama berusaha, lelaki ini sudah mampu membeli sebuah rumah dan mobil.

Ke depan, Doni berharap bisa membangun pabrik peleburan limbah kaca, yang produknya bisa dipakai untuk kaca gravir. Kalau rencana ini terealisasi, maka ketergantungan pada pasokan kaca dari Jakarta bisa dilepaskan