Inspirasi Sukses Bisnis Fashion Blogger Diana Rikasari

By on May 11, 2015
Inspirasi Sukses Bisnis Fashion Blogger Diana Rikasari Reviewed by Ide Usaha on . This Is Article About Inspirasi Sukses Bisnis Fashion Blogger Diana Rikasari

Inspirasi Sukses Bisnis Fashion Blogger Diana Rikasari — Fashion merupakan salah satu bisnis yang tidak pernah ada matinya. Apalagi jika pemasaran fashion dikembangkan dengan menggunakan media online. Fashion itu sendiri merupakan salah satu produk yang paling banyak di cari di internet. Itulah sebabnya ketika anda memilih menjalankan bisnis ini anda harus benar-benar memperhatikan berbagai hal […]

Rating: 5

Inspirasi Sukses Bisnis Fashion Blogger Diana Rikasari — Fashion merupakan salah satu bisnis yang tidak pernah ada matinya. Apalagi jika pemasaran fashion dikembangkan dengan menggunakan media online. Fashion itu sendiri merupakan salah satu produk yang paling banyak di cari di internet. Itulah sebabnya ketika anda memilih menjalankan bisnis ini anda harus benar-benar memperhatikan berbagai hal yang berkaitan dengan trend fashion, kualitas, jaminan keamanan transaksi dan lain sebagainya.

www.suksesbisnisusaha.com

www.suksesbisnisusaha.com

Di antara pecinta mode Indonesia, nama Diana Rikasari tentunya sudah tak asing didengar. Wanita yang namanya kian dikenal sebagai fashion blogger dengan cita rasa gaya yang unik, kini memperkuat citra diri sebagai seorang pengusaha muda sukses.

Blogger yang kini memiliki rambut gaya ‘mop top’ itu menceritakan seluk beluk bisnis sepatu yang dimulainya sejak akhir 2010. Diungkapnya, kecintaan pada sepatu dan jiwa entrepreneur yang telah dimilikinya sejak dibangku sekolah, membuat Ia yakin untuk fokus menjalankan bisnis.

Awal Mula Terjun Ke dunia Bisnis

“Sebenarnya dari dulu aku memang suka berbisnis, dari aku SMA terus kuliah aku suka jual-jualan atau bikin apa gitu terus aku jualin. Kayak dulu aku bikin bingkai foto atau stiker untuk aku jual-jualin, jadi memang jiwa entrepreneur-nya sudah ada dari dulu. Tapi aku baru kayak menemukan itu lagi di diri aku baru sekarang-sekarang ini,” ujar Diana di rumahnya di daerah Kemang Pratama, Bekasi, belum lama ini.

Diana mengaku memulai bisnisnya dengan modal yang tak terlalu besar dan dari uang tabungannya sendiri. Ibu satu anak itu bahkan tak mendapat dukungan keluarga saat ia memutuskan untuk meninggalkan kariernya di perusahaan multinasional demi mendalami passion-nya. Namun jiwa entrepreneur yang telah lama dipendamnya tak bisa dibohongi. Diana mantap mengakhiri karier yang sedang naik dan memulai bisnis dari bawah lagi. Hingga akhirnya ide Up mendirikan muncul di akhir tahun 2010, kemudian menyusul brand sepatu lainnya, Pop di 2013.

Diungkap Sang desainer, Up dan Pop adalah dua brand sepatu dengan DNA berbeda. Perbedaan mendasar bukan hanya sekadar dari hak wedges ataupun datar tapi juga desainnya. “Jiwanya beda. Up itu kan temanya friendly, nggak edgy, nggak bold jadi yang bener-bener kayak model biasa yang bisa dipakai sehari-hari dan bisa dipakai sama women in general jadi bukan khusus ke fashion people jadi untuk wanita umunya saja yang mau pakai sepatu yang comfortable tapi stylish. Tapi kalau pop itu yang beda, lucu-lucu dan uniklah,” tambahnya.

Brand Up yang awalnya dibuat sebagai sarana untuk mengasah kreativitas itu, bahkan membuat wanita lulusan Teknik Industri Universitas Indonesia ini mendapat banyak penghargaan. Beberapa di antaranya adalah Top 50 UKM dan juga penghargaan dari British Council untuk International Young Creative Entrepreneur, yang membawanya sampai ke Inggris untuk mengenalkan Up pada dunia internasional.

Tantangan Bisnis

Perjalanan bisnis tak selalu berjalan mulus seperti yang terlihat sekarang ini. Beberapa masalah seperti perombakan tim produksi sempat menjadi ganjalan dan membuat wanita kelahiran Colorado, AS itu menghentikan proses penjualan sampai 3 bulan. Diana mengaku itu adalah masa-masanya ia mendapat keluhan terbanyak dari para konsumen. Selain proses produksi, salah satu kendala yang masih kerap Ia hadapi adalah para seniman lain yang menjiplak karya seninya.

“Banyak juga yang replika desain aku, itu aku sedih sih karena kan aku benar-benar desain sendiri bukan yang niru tapi masih banyak label di Indonesia yang jiplak-jiplak aja dan buat aku itu sedih sih. Karena kan namanya desainer kita capek desain terus dijiplak. Misalnya juga aku buka booth dan samping aku jual sepatu-sepatu replika, menurut aku itu sedih merasa “Gila ya aku susah-susah desain dan mereka tinggal jiplak”,” tutur blogger yang senang mengoleksi topi dan headpiece ini.

Diana menambahkan dirinya akan langsung mengkomunikasikan hal tersebut kepada pihak yang bersangkutan menjual replika. Biasanya ia akan mengirimkan email pribadi dan meminta pihak itu menghapus foto-foto yang mirip dengan buatannya. Meski tak jarang pula keluhannya tak digubris oleh pihak yang meniru karyanya.

Saat ini, Diana memasarkan produk sepatunya secara online di situs I Wear Up. Namun kini sudah mulai merambah retailer offline, seperti The Goods Dept agar karyanya lebih dikenal lagi, baik di dalam maupun luar negeri. Ke depannya, Diana mengaku ingin fokus dan tak muluk-muluk ingin merambah bisnis fashion lainnya seperti baju atau aksesori.

“Aku sih rencananya masih tetap di sepatu saja karena masih banyak yang perlu diperbaiki. Mungkin sekarang memperbanyak high heels, karena biasanya up itu kan dikenalnya wedges. Tapi untuk 2015, aku mau fokus dikualitas produksi saja,” tutup Diana.